Membawa Shalawat Setiap Masuk Kelas

M.Yusuf Amin Nugroho

“Shallu ‘ala nabi Muhammad!”
“Shollu ‘alaih...”

Demikian saya (berusaha, setidaknya dua bulan terakhir ini) mengawali proses pembejalaran di kelas. Apa yang saya lakukan itu barangkali terkesan aneh, tidak lumrah. Karena biasanya, yang dilakukan guru setelah salam adalah membuka pelajaran dengan mengajak siswa membaca “basmallah”. Karena keanehan inilah maka tak terhindarkan banyak siswa yang cengengas-cengenges saat shalawat mulai dilantunkan.

“Allahumma shalli wa salim ‘ala, sayyidina wamaulana muhammadin, ‘adadama fi’il milahi shalatan, da imatan bidawami mulkilahi....”

Itulah shawalat Sa’adah yang lebih sering dilantunkan pada siswa dengan senandung yang sederhana. Kadang-kadang juga shalawat nariyah, atau di lain kesempatan saya mengajak mereka melantunkan shalawat badar atau sesekali shalawat Diba, Simtud Dhuror—Ya ROBBI BILL MUSTOFA:

Maula ya sholli wa salim daiman abada
‘ala habibika khoiril kholqi kulli himi
Huwa al-ahabibulladzi turjasyafa ‘atuhu
Likullihaulimmina al-ahwa limuktahimi
Ya rabbi bi al-musthafa balligh maqashidana
Waghfirlana mamadho ya Wasi’a al-Karami

Membawa shalawat ke dalam kelas, bagi saya adalah satu hal sangat penting. Sama sekali tidak ada ruginya menghabiskan waktu dua atau lima menit untuk digunakan membaca shalawat nabi di akhir atau di awal proses pemebelajaran. Dan inilah dalil utama mengenai urgensi shalawat Nabi:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Pada awal sebelum saya membawa shalawat setiap masuk kelas, terlebih dulu saya menyampaikan keutamaan shalawat Nabi kepada para siswa. Tentang kenapa kita harus bershalawat kepada Nabi yang jelas-jelas maksum, dan apa pula makna ayat di atas?

Shalawat adalah doa dan salam berarti keselamatan. Seorang ulama, Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin menerangkan, dengan mengucap salam apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan, dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna.

Ketika kita mengucapkan shalawat untuk Nabi maka artinya kita sedang mendoakan kebaikan untuk junjungan kita itu. Nabi memang maksum dan shalawat untukNya sebenarnya akan kembali kepada kita sendiri. Nabi Muhammad Saw. ibarat sebuah wadah besar yang penuh terisi air jernih, sementara kita adalah botol-botol kecil yang terisi dengan air keruh yang mengelilingi wadah tersebut. Nah, ketika kita membaca shalawat kepada Nabi, ibaranya kita tengah mengisi wadah nabi yang besar itu. Tetapi karena wadah Nabi sudah tidak cukup menampung air, maka air dari wadah nabi tersebut akan meluber, mengaliri botol-botol kita yang berisi air yang kotor. Kian sering kita membaca shalawat maka air kotor dalam botol-botol kita lambat laun akan jernih.

Banyak sekali hadis tentang keutamaan shalawat, salah satu: “Barangsiapa yang bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]

Bisa dibayangkan khasiat doa malaikat, makhluk tanpa nafsu, tanpa dosa, dan selalu berdzikir, dan memiliki hubungan sangat dekat dengan Allah. Maka, sangat rugilah orang-orang yang tidak mau, atau tidak membiasakan membaca shalawat dalam kesehariannya. Bahkan, Rasulullah pernah menyatakan bahwa orang yang paling bakhil adalah orang yang jika disebutkan nama Rasulullah, ia enggan membaca shalawat.

Lalu apa makna ‘Allah bershalawat kepada nabi’? Bukankah Allah pengabul doa, mana mungkin Ia turut berdoa untuk nabi, berdoa memohon kepada siapa? Maknanya tentu tidak sedangkal itu! Ibnu Katsir pernah berkata: “Maksud ayat ini (al-Ahzab: 56) adalah bahwa Allah swt mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah swt memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bersholawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”
Dalam masalah yang sama Abul Aliyah berpendapat: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat”. Ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa makna shalawat Allah kepada nabi yaitu Allah melimpahkan kasih sayangNya kepada beliau.

Demikianlah, shalawat kepada nabi adalah juga wujud kepatuhan kita kepada Allah dan Rasulullah, karena selain Allah memerintahkan kita untuk bershalawat Nabi juga meminta agar ummatnya membacakan shalawat untuknya—yang pada hakikatnya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Dengan membiasakan shalawat kepada Nabi kita sebenarnya juga sedang memupuk cinta kepadanya. Karena bukakah demikian semestinya orang yang mencinta, yakni selalu dan terus berusaha menyebut nama kekasihnya. Sebaliknya, orang yang mengaku mencintai Rasulullah tetapi enggan membiasakan bershalawat untuknya, maka sesungguhnya ia kadar cintanya patut diragukan.

Oleh karena itu, bershalawat mestilah disertai dengan penuh penghayatan dan keikhlasan. Artinya shalawat kita tidak sebatas bibir, melainkan dibaca sepenuh cinta, penuh kerinduan, penuh harap kepada Allah.

Sayangnya, sedikit saja Ummat Muhammad saw yang mau memperhatikan pentingnya bershalawat untuk Nabi. Shalawat bagi sebagian ummat Islam seringkali hanya dianggap sebatas basa-basi baku dalam pembukaan pidato, kalimat yang harus dibaca saat shalat dan khutah Jumat, dan es-a-we (Saw) yang mengikuti kata Muhammad / Nabi dianggap sebagai pelengkap kepantasan—tanpa pernah direnungkan keagungan maknanya.



“Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bersholawat untuk Nabi, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.” [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]

Masuk kelas yang notabene-nya adalah majlis ilmu, tanpa membawa shalawat, pada akhirnya menjadi kurang sempurna. Dan kita pastilah tak ingin kebatilan dan siksa dariNya. Maka, sudah sepatutnya, menjadi tugas kita untuk menanamkan kecintaan akan Rasulullah Saw kepada generasi penerus, dan bagi guru salah satu caranya adalah dengan jalan membawa shalawat setiap masuk kelas.

sumber gambar: cahyaimancahayakebenaranislam.wordpress.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »