Evaluasi Diri di Tengah Ngoreksi

M.Yusuf Amin Nugroho
Malam hampir tiba di puncak, tapi mata ini masih membelalak. Tugas seorang guru dan wali kelas di akhir tahun ajaran menumpuk. Membuat rata-rata ulangan harian, rata-rata tugas, mengoreksi hasil ujian kenaikan kelas, remidi, membuat nilai raport, analisis soal, membuat legger nilai, menulis raport, menyalin raport ke buku legger, rapat penegas; semua itu harus diselesaikan dalam jangka waktu sekitar dua minggu. Maka, lembur tak dapat dielakkan....
Tugas-tugas itu bukan untuk dipikirkan, direnungkan, atau dicaci maki, tetapi untuk dikerjakan. Dan saya sudah mulai menggarapnya sejak meninggu lalu. Tapi malam ini, di tengah mengoreksi hasil UKK, saya mendadak gelisah. Saya merasa perlu untuk berhenti memelototi lembar-lembar jawab itu. Saya merasa perlu untuk berpikir, untuk merenung, untuk muhassabah, untuk mengoreksi proses pembelajaran selama setahun.
Kenapa? Apakah karena nilai UKK Fiqih para siswa kelas 8 itu ancur? Atau sebaliknya, bobot soal (yang tahun ini saya sendiri yang ditugaskan untuk membuatnya) terlalu ringan buat mereka? Atau ada hal lain yang membuat saya memutuskan untuk berhenti mengoreksi hasil UKK itu dan menuliskan renungan ini?
Dari empat kelas yang sudah saya koreksi, memang tidak ada satu pun yang mencapai nilai sempurna. Tetapi ada lebih dari 20 siswa yang mendapatkan nilai istimewa, 90 ke atas. Lebih banyak lagi siswa yang tidak mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal, yakni 70. Menariknya, hampir semua soal esai bisa dijawab dengan benar.
Dari situ, secara kualitatif saya berkesimpulan bahwa bobot soal yang saya buat tidaklah sulit, tidak pula mudah. Kalau pun banyak siswa yang nilainya tidak tuntas, itu disebabkan oleh beberapa kemungkinan, antara lain: Siswa tidak belajar, Siswa kurang memahami pertanyaan, Siswa terkecoh dengan pilihan jawaban, Siswa belum memahami materi pelajaran.
Bagi saya berapa pun hasil UKK diperoleh siswa tidaklah masalah, selama mereka telah berusaha mempersiapkan diri mengharapi soal-soal, berusaha mengerjakannya sendiri dengan memegang prinsip kejujuran. Seringkali, tak terhitung berapa puluh kali, saya telah mengatakan kepada para siswa; yang terpenting bukan berapa nilai kalian, tetapi bagaimana proses kalian mendapatkan nilai itu.
Saya tidak henti-hentinya berkhotbah akan pentingnya sebuah kejujuran: Negeri ini sudah terlalu banyak orang curang, pendusta, pencuri, dan kalian disekolahkan untuk menjadi orang-orang yang nantinya akan menggantikan mereka. Orang pintar jika tidak jujur justru akan sangat berbahaya dibanding orang bodoh yang tidak jujur. Kejujuran itu menentramkan hati, disenangi Tuhan, dan karenanya orang-orang jujur akan dilindungi sama Yang Kuasa. Maka, kerjakan Ulangan dan ujian sendiri, tidak mencontek atau menocontoh jawaban teman, diawasi atau tidak oleh guru.  
Tak henti pula saya memotivasi para siswa untuk percaya diri: Berikan jawaban yang kalian bisa, apapun itu. Jangan takut salah. Justru dengan kesalahan itu kita jadi tahu letak kesalahan kita sehingga tidak akan terjatuh dilubang yang sama. Itulah latihan untuk percaya diri. Ingatlah bahwa rasa percaya diri itu sangat dibutuhkan dalam hidup, lebih-lebih setelah kalian terjun langsung ke masyarakat. Tanpa rasa percaya diri bangsa ini tidak akan berkembang, akan selalu terbelakang.
Kepada siswa-siswa yang cerdas kerap juga saya mewanti-wanti: memberi tahu jawaban kalian ke teman disaat ulangan atau ujian sama saja dengan membodohkan sesama. Sebab hal ini bisa membuat orang lain malas berpikir, dan terbiasa bergantung kepada orang lain. Maka, simpan jawaban kalian rapat-rapat. Juga telinga kalian, usah hiraukan mereka yang mengata-ngatai kalian pelit, sombong, dan tidak setia kawan. Jika kalian bisa bersikap demikian, maka sebenarnya kalian sedang membantu sahabat kalian menjadi anak yang pintar.  
Malam ini, di tengah mengoreksi hasil UKK, saya bertanya-tanya: Kemana larinya kalimat-kalimat saya itu? Nasehat saya itu, seakan mlebu kuping kiwo metu kuping tengen (masuk telinga kanan, keluar telinga kiri). Tidak digubris. Hasil UUK itu adalah bukti terakhir kecurangan dan kelembekkan usaha para siswa.
Sebagai guru, tentu saja dengan sangat mudah saya bisa tahu jawaban yang mengekor milik teman, meski sulit menentukan siapa yang mengekor dan siapa yang di depan, karena tidak langsung mengawasi jalannya ujian. Banyak jawaban di soal esai yang sama persis, padahal jawaban itu salah.
Padahal posisi duduk mereka sudah dibuat agar supaya tidak terjadi kerja sama selama ujian. Padahal sudah ada pengawas ujian yang memiliki wewenang menuliskan berita acara jika ada kecurangan. Apakah yang mengawasi ujian haruslah seorang polisi bersenjata lengkap agar mereka tidak berani toleh kanan kiri? Saya kira tidak berlebihan seperti itu ya...
 Memang, menanamkan sikap jujur dan percaya diri tidak  semudah membuat mie instan. Sejak kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan usaha itu harus sudah dimulai. Kecurangan di negeri ini sudah membudaya, sudah dianggap lumrah, bukan dosa, dan karenanya semua pihak harus turut serta berjuang untuk merubahnya.  
Di Madrasah juga pernah dibuka Kantin Kejujuran yang bisa bertahan lebih dari dua bulan sebelum kemudian gulung tikar karena bangkrut. Itu membuktikan bahwa kujujuran sangatlah mahal. Tapi apa pun hasilnya, usaha membuka kantin kejujuran patut mendapatkan apresiasi karena memiliki tujuan yang mulia, yakni membiasakan prilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kalau pun saya bersedih hati setelah mengoreksi lembar jawab UKK mohonlah itu agar dimaklumi. Saya juga perlu muhassabah, mengoreksi kecurangan-kecurangan saya sendiri sehingga nasehat-nasehat saya mentah di dada para siswa.
Tawa shoubil haqqi, watawa shoubishabri
Saling menasehati kebenaran, dan saling menasehati akan kesabaran.
Jika diri kita sendiri masih sangat kotor, jika diri kita masih jauh dari legowo, ikhlas, dan sabar, maka sulit (bahkan mustahil) bisa mengajak orang lain ke jalan kebaikan dan bersabar menghadapi cobaan.... Itulah yang saya tangkap dari firman di atas. 
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim...
Wonosobo, 7 Juni 2011 ; selesai pukul 00:25
 
sumber: ilmukomput3r.wordpress.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »