Shalat sebagai Ibadah yang Utama

Renungan Isra' Mi'raj

Dari Anas, Nabi Saw. Bersabda: “Sesungguhnya yang pertama-tama difardhukan Allah atas manusia dalam urusan agama mereka ialah shalat. Dan yang pertama-tama dihisab pun adalah sahalat. Allah berfirman, “Lihatlah olehmu salat hamba-Ku.” Maka jika ia sempurna ditulis sempurna. Dan jika ia kurang, Allah berfirman, ‘Adakah bagi hamba-Ku shalat sunnat?’ Maka jika ada padanya shalat sunnat, disempurnakanlah yang wajib dengan sunnat.” (H.R Abu Ya’la)

Semua muslim tahu, shalat adalah ibadah yang paling utama. Tetapi, seringkali pengetahuan tidak diiringi dengan amal. Saya kerap bertanya di dalam kelas, siapakah yang dalam seminggu ini shalatnya full? Hanya ada satu dua jari yang terangkat. Padahal, mereka (Anda juga?) Islam semua, siswa madrasah pula. Betapa memprihatinkan!

Shalat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Kalau haji bisa diwakilkan, puasa bisa diganti dengan fidyah, zakat boleh tidak dibayarkan bagi yang tidak mampu, maka shalat tidak. Shalat tidak boleh diwakilkan, tidak ada qadha, tidak bisa diganti dengan uang (fidyah), dan wajib bagi yang kaya maupun miskin.

Dalam keadaan apapun kita, sakit seperti apa, bahkan ketika perang sekalipun, semiskin apapun, ada air atau tidak, kita tetap diwajibkan shalat. Ini menandakan bahwa shalat adalah ibadah yang utama. Lebih utama dibanding dengan ibadah-ibadah yang lain. Belum lagi ketika kita cermati hadist Nabi Saw di atas, kian jelaslah, bahwa shalat adalah ibadah yang utama.

Shalat merupakan bukti kepatuhan kita kepada Yang Maha Kuasa. Dengan mendirikan shalat kita berarti tengah mengakui bahwa diri kita adalah makhluk. Makhluk yang tidak punya daya dan tenaga tanpa ridha dari-Nya. Kita kita shalat, kita puji Allah Swt, kita memohon, kita pasrah sepenuhnya di depan Sang Pencipta.

Bukankah secara bahasa shalat berarti doa. Doa yang khusus. Doa yang dikerjakan dengan syarat dan rukun tertentu. Orang yang enggan berdoa tergolong orang-orang yang sombong. Dan sombong sifat Iblis. Kenapa orang yang enggan shalat dikatakan sebagai orang sombong? Sebab seolah-olah ia menganggap bahwa dirinya mampu berbuat apapun tanpa membutuhkan bantuan dari Allah Swt.

Kita tahu, belum lengkap Islam seseorang apabila ia tidak mendirikan shalat. Sekali lagi, ‘mendirikan’, bukan hanya ‘mengerjakan’. Mendirikan shalat adalah mengerjakan shalat secara rutin, tidak bolong-bolong atau ketika kita mau saja.

Apakah mendirikan shalat itu berat? Hanya liwa waktu dalam sehari, bukan 50 waktu. Ini sebagaimana diperintahkan Allah Swt kepada Nabi Saw dalam peristiwa yang dikenal dengan Isra' Mi'raj (12 Rajab).

Ya, bagi yang merasa berat mendirikan shalat itu berarti ia telah kalah dengan nafsunya (setan). Kita mesti selalu siap untuk berperang melawan nafsu setan. Kemalasan mengerjakan shalat harus kita perangi, harus kita lawan. Jika kita terlampau sering mengalah atau kalah dengan nafsu dalam diri, lama-kelamaaan nafsu itu akan menguat, dan kita akan semakin kewalahan menghadapinya. Karenanya, nafsu mesti kita lawan, kita kalahkan, sehingga kita tidak lagi merasa berat mengerjakan shalat.

Shalat bukan semata-mata kewajiban, tetapi ia adalah kebutuhan kita sendiri. Anda tentu tahu, sekiranya semua makhluk di dunia ini tidak ada yang shalat, Allah Swt tidak bangkrut dan berkurang sedikit pun Keagungannya. Shalat adalah kebutuhan kita, bukan kebutuhan Allah. Kitalah yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya.

sumber gambar: pintu-hikmah01.blogspot.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »