Mengonsumsi Makanan atau Minuman Haram Dalam Keadaan Darurat ( 8 G–Kelompok 4)

tugas dan karya siswa tinta guruAnggota kelompok:
Ø Annisa Juli Anggraeni
Ø Fatikhatul Hidayah
Ø Fatma Dahlia
Ø Nada Fitriana
Ø Sayyidatul Kamila

 
 
A. PENDAHULUAN
Mengkonsumsi makanan/minuman yang haram bagi seorang muslim, jelas hukumnya adalah haram, tetapi bagaimana hukumnya jika kita mengkonsumsi makanan/minuman dalam keadaan kekurangan makanan/terdesak? Berikut uraian dalilnya.
B. PEMBAHASAN
Dalil tentang diperbolehkannya mengkonsumsi makanan/ minuman haram dalam kedaan darurat.
v Dalil dalam Al-Qur’an
1. Firman Allah SWT dalam surat al-maidah ayat 3, yaitu: 
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, dara, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Maidah: 3)
2. Firman Allah dalam surat al-An’am ayat 119, yaitu: 
Artinya: Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.(QS. al-An’am: 119)
3. Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 106, yaitu: 
Artinya: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahl: 106)
4. Firman Allah, dalam surat Al-Baqarah ayat 195, yaitu: 
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)
5. Firman Allah, dalam surat Al-Baqarah ayat 85, yaitu:
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[QS. Al Baqarah:85]
6. Firman Allah dalam surat Al An’am ayat 145, yaitu:
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".[QS. Al An’am:145]
7. Firman Allah, dalam surat Al-Baqarah ayat 173, yaitu:
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.[QS. Al Baqarah:173]
v Dalil dalam as-sunnah
1. Bersumber dari Abu Waqid al-Laitsi ia berkata, aku bertanya kepada Rasullah,” Rasululllah, kami berada di sebuah daerah yang tengah dilanda bencana kelaparan. Apakah kami halal memakan bangkai?” Beliau menjawab,, “kalau memang kalian tidak menemukan makanan yang bisa kalian makan pada pagi dan sore hari dan bahkan tidak mendapatkan sayurang yang bisa kalian cabut, maka silahkan kalian makan bangkai itu.
(Fikih darurat, hal:24. Dinukil dari Mukhtar ash Shihah, hal:354 dan 467 dan Al Futhur Rabbani Li Targhib Musnad Imam Ahmad XVII/83)
2. Bersumber dari Jabir bin Samrah, sesungguhnya seseorabg bersama istri dan anaknya singgah di daerah Harrah. Orang itu berkata,” Ontaku tersesat. Begitu anda menemukan tolong anda tahan.” Jabir berhasil menemukannya, tetapi ia sudah tidak mendapati pemiliknya. Ketika onta itu sakit, isterinya mengusulkan, “Sembelih saja binatang itu.” Tetapi Jabir tidak mau. Isterinya mengusulkan lagi,” kalau begitu kuliti saja binatang itu supaya lemak dan dagingnya kita jadikan dendeng lalu kita makan.” Tetapi Jabir tetap menolaknya, “Aku tanyakan dulu kepada Raasulullah SAW.” Jabir lalu menemui beliau, dan beliau bertanya, Apakah kamu ada orang kaya yang mencukupimu?” Jabir menjawab, “tidak ada”. Beliau bersabda, “Kalau begitu makanlah.” Tidak lama kemudian si pemilik Onta itu muncul. Setelah mendengar cerita dari Jabir ia berkata, “Kenapa anda tidak menyembelihnya saja?” Jabir menjawa,” Aku malau kepadamu.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafadnya darinya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahamad dan al-Baihaqy.)
Dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah itulah yang menjadi dasar kaidah masalah darurat dan hukum-hukumnya dalam Fiqih Islam.
- Menurut Dr. Kholifah Ba Bakar Al Hasan, bahwa kemaslahatan-kemaslahatan dloruriyat adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk keutuhan kepentingan dunia dan akhirat, seandainya tidak terpenuhi maka akan menghambat kepentingan diniawi atau bahkan mengarah pada kerusakan dan kekecewaan dalam kehidupan, sedangkan ukhrowinya tidak bisa mencapai pada kebahagiaan dan kenikmatan, serta merajut kepada kerugian yang nyata. Beliau juga menggunakan ungkapan lain, yaitu kemaslahatan-kemaslahatan ummat baik secara kelompok atau individu, seandainya tidak melakukan hal yang dilarang agama maka berdampak terpecah belahnya peraturan-peraturan yang ditetapkan, bahkan bisa mengarah pada kerusakan dan kehancuran. 
#Hukum mengkonsumsi makanan yang haram dalam keadaan darurat
Al 'Izzuddin Bin Abdissalam t mengatakan, "Misalkan seseorang terpaksa harus memakan barang yang najis ia wajib memakanya, karena resiko hilangnya nyawa jauh lebih besar daripada resiko yang diakibatkan memakan barang-barang najis.[Qawaidul Ahkam Fi Masalihil Anam I/81]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Seseorang yang sedang dalam keadaan darurat wajib memakan atau meminum sesuatu yang dapat mempertahankan nyawanya. Jika ia terpaksa harus memakan bangkai atau meminum air najis lalu ia tidak mau melakukannya hingga meninggal dunia, maka ia masuk neraka
# Ukuran yang boleh dikonsumsi orang yang sedang dalam keadaan darurat.
Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama, bahwa jika seseorang mengalami rasa lapar yang cukup lama dan terus menerus ia boleh memakan bangkai sampai kenyang. Hukum ini berlaku bagi makanan-makanan lainnya yang dilarang. Maksudnya ia memakan sekedarnya saja, tidak boleh memakannya melebihi dari kenyang.
# Hikmah Dari Diperbolehkannya Sesuatu Yang Diharamkan Dalam Keadaan Darurat.
Hikmah boleh makan barang-barang yang haram dengan alasan darurat itu adalah demi menjaga keselamatan nyawa orang yan bersangkutan, seperti contoh kasus meminum arak, memakan bangkai, dan lain-lain. Pada awalnya mengkonsumsi barang-barang yang diharamkan tersebut jelas bisa membahayakan kesehatan orang yang memakan atau yang meminumnya. Kalau hal itu diharamkan, adalah demi kepentingannya, bukan demi kepentingan orang lain. Maka diperbolehkannya mengkonsumsi barang-barang yang diharamkan tersebut adalah hikmah Ilahi kepada hambanya. Sebab bila tetap diharamkan justru bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar yang digambarkan dalam bentuk kekhawatiran meninggal dunia. 
# Bentuk darurat apapun yang datang secara tiba – tiba, dan mangancam kehidupan, ia harus menyelamatkan diri dan menyelesaikan beban itu.
Dalam konteks tersebut , tidak seperti yang dikira oleh sebagian orang, memahami bahwa Allah mendahulukan kepentingan agama daripada kepentingan materi. Akan tetapi, perlu dijelaskan bahwa justru kepentingan memelihara fisik masih dalam koridor kepentingan agama. Namun, agama mesti menjadi pertimbangan prioritas dalam aspek kerusakan dan kehancurannya. Dan harus menegaskan bahwa agama yang kita anut adalah agama Allah yang dipelihara dalam al - Qur’an dan as - Sunnah, sebagai agama yang suci, fitrah. Tujuan agama Islam adalah meraih rahmat, kebaikan, dan kebahagiaan unyuk manusia.
C. KESIMPULAN
Jika dalam keadaan darurat memakan makanan yang diharamkan demi menyambung nyawa karena kelaparan, ia di perbolehkan memakannya sebatas menutupi rasa lapar, seadanya. Sebab, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Waqid Al-Laetsy, bahwa mereka bertanya kepada Nabi Muhammad saw : “Wahai Rasulullah, lahan pertanian kami ditimpa kekeringan, lantas kapan kami dibolehkan memakan bangkai ?” Nabi menjawab : “Apabila kalian tidak dapat makan siang dan makan malam, dan tidak memperoleh sayuran yang dapat di makan, maka kalian berhak menentukan perkara tersebut (apakah mau memakannya atau tidak).”
Adapun batasan atau kadar yang dibolehkan memakan makanan haram dalam kondisi darurat. Sebagian mengatakan seadanya, sekedar menutupi lapar. Sebagian lagi berpendapat boleh memakannya hingga kenyang, dan tidak diikat dengan sekadarnya. Dalilnya terdapat dalam Q.S. Al-Maidah : 4-5.
Islam juga memperhitungkan dan mengukur secara cermat kondisi-kondisi darurat, karena adanya unsur yang membahayakan nyawa manusia. Dalam hal ini dihalalkan hal-hal yang haram, sesuai kondisi dan kadar daruratnya tanpa melampaui batas-batas darurat.

DAFTAR PUSTAKA
Mahir Hasan Mahmud Muhammad, Mukjizat Kedokteran Nabi Berobat Dengan Rempah-Rempah dan Buah-Buahan, Qultum Media, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan : 2007
Stitattaqwa.blogspot.com/2011/06/maqasid-al-ahkam.html
Walidrahmanto.blogspot.com/2012/01/darurat-dalam-perspektif-islam.html

baca juga: binatang halal dan haram


















































Share this

Related Posts

Previous
Next Post »