Karya Siswa: Bentuk dan Besarnya Zakat fitrah


Ditulis oleh Kelompok Uwais Jamal Jawahir(VIII H)
Nama Anggota Kelompok :
1. Afi Zidni Az-Zukhruf (05)
2. Atina Naili Fauziah (13)
3. Bagus Adi Saputra (15)
4. Ulfa Arifia (31) 
5. Vivi Nazilatil Hasanah (33)
6. Zuhdi Ali Hisyam (34)

A. Pendahuluan

Zakat merupaka rukun islam yang ke 4 yang wajib dilaksanakan setiap umat islam yang mampu membayarnya. Untuk zakat fitrah dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada saat bulan Ramadhan hingga sebelum sholat Ied dimulai. Zakat Fitrah harus dibayar sebelum menunaikan shalat Ied.

Beberapa Dalil yang berisi tentang zakat :
وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ
Artinya : Dan laksanakanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah beserta orang- orang yang rukuk. (Q. S. Al- Baqarah/2 : 43 )

أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْوَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Artinya : Sesungguhnya Allah mewajibkan zakat ( termasuk zakat fitrah ) kepada mereka, dipungut dari orang- orang kaya di antara mereka, kemudian dikembalikan (diberikan) kepada orang- orang fakir diatara mereka. ( H. R. Al- Bukhari dari Ibnu Abbas : 1308 )

B. Bentuk Zakat Fitrah

Ada pendapat yang tidak memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang, yaitu mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok. Pendapat ini didukung oleh Jumhur Ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Dalil yang dipergunakan antara lain hadis Ibnu Umar R.A bahwa Rasullullah S.A.W mewajibkan zakat fitrah berupa 1 sho’ kurma atau 1 sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki- laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa. Rasullullah memerintahkan zakat ini agar dibayar sebelum shalat ied dilaksanakan. Para Ulama pada kelompok ini berketetapan bahwa zakat fitrah harus dibayarkan dalam bentuk makanan pokok, bukan uang.

Adapun pendapat yang memperbolehkan pembayaran zakat dengan uang. Pendapat seperti ini didukung oleh ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. Adapun dalilnya yaitu firman Allah pada Q. S. At- Taubah : 103 yang artinya “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kami membersihkan dan mensucikan mereka”. Dalil berikutnya adalah sabda Rasullullah yang artinya “ Cukupilah mereka ( kaum fakir dan miskin) dari meminta- minta pada hari Idul Fitri”. (H.R. Daruquthi dan Baihaqi )
Faktanya, saat ini kemaslahatan membayar zakat dalam bentuk uang merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Kebutuhan mustahik pada saat ini sangat beragam. Tidak hanya sebatas bahan makanan pokok. Melainkan juga membutuhkan uang agar bisa mengolah bahan pokok misalnya. Dalam hal ini menarik untuk menyimak penjelasan Shaikh Yusuf Al- qudhawi bahwa Rasullullah S.A.W pada waktu itu memerintahkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok karena memang tidak semua orang memiliki dinar atau dirham. Oleh karena itu, jika Rasullullah S.A.W pada saat itu memerintahkan zakat dalam bentuk uang tentu akan membebani umat. Berbeda dengan saat ini, bahwa kebanyakan orang lebih mudah mendapatkan uang daripada bahan makanan pokok.

C. Besarnya Zakat Fitrah


Abdullah bin Umar berkata “ Rasullullah S.A.W memerintahkan mengeluarkan zakat fitrah 1 sha’ kurma atau 1 sha’ gandum”. Ibnu Umar berkata orang- orang menyamakan dengan dua mudd hinthah ( sejenis gandum ). ( H.R. Muslim )
Para sahabat telah mengkonversikan 1 sha’ kurma dan gandum dengan ½ sha’ burr ( gandum bagus ) atau 2 mudd hinthah ( sejenis gandum )
Pembedaan pengkonversian antara beberapa jenis gandum dalam zakat fitrah mengandung penjelasan bahwa pengkonversian tersebut didasarkan atas nilainya.
Adapun 1 sha’ sama dengan 2. 75 liter atau 1 liter beras adalah 0, 8 kg, maka 2. 75 liter x 0, 8 = 2, 2 kg. Umumnya di Indonesia zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 kg beras setiap jiwa.

D. Penutup

Memang ada beberapa perbedaan tentang pendapat besar dan bentuknya zakat fitrah . Sebagai umat islam, kita harus tetap menghormatinya. Karena , pendapat- pendapat di atas memiliki pedoman- pedoman tersendiri. Sebagai umat islam kita bebas memilih pendapat yang mana menurut kita paling benar. Karena itu kembali kepada diri kita masing- masing.

E. Refrensi


a. LKS Fiqih Kelas 8
b. www.merdeka.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »